Halaman

Jumat, 20 April 2012

Dampak Penggunaan External Input terhadap Kearifan Lokal


Tugas Agroekologi
Dampak Penggunaan External Input terhadap Kearifan Lokal Petani
Dosen pengampu :
Ir. Agus Nugroho Setiawan, M.P dan Lis Noer ‘Aini, S.P,.M.P
 
Disusun oleh:
 Akhmad Bustamil (20110210049)
fatra Laindah (20110210025)
Rifqi Khoirul Anam (20110210009)
Deta Dwi Prayitno (20110210005)

Program Studi Agroteknologi
Fakultas Pertanian
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
2012 


                               I.            Pendahuluan
Perkembangan populasi manusia yang semakin cepat, mengakibatkan meningkatnya kuantitas dan kualitas suatu kebutuhan manusia akan makan. Hal ini mendorong adanya upaya peningkatan produktifitas pangan dari berbagai aspek, khususnya pertanian. Dalam upaya peningkatan produktifitas pertanian ini mempunyai beberapa jalan. Diantaranya perluasan lahan pertanian dan mekanisasi pertanian, yang keduanya mempunyai keunggulan dan kerugian masing masing. Upaya perluasan lahan pertanian untuk saat ini hanya bisa dilakukan di beberapa daerah yang masih mempunyai dataran yang luas, dan berpenduduk sedikit.  Untuk mekanisme pertanian berupa penggunaan external input dalam sistem pertaniannya.  
Penggunaan external input yang baik dalam sistem pertanian sangat membantu dalam meningkatkan produktifitas pertanian. Akan tetapi penggunaan EI yang tidak bijaksana akan berakibat pada kerusakan lingkungan dan hilangnya keanekaragaman dalam ekosisem alam dan pertanian, selain itu jug adapt menghilangkan kearifan lokal. Fenomena revolusi industri tahun 1960-an merupakan contoh kerusakan lingkungan akibat penggunaan EI yang tidak bijak.
Sebelum penggunaan EI dikenal luas di dunia pertanian, pada awalnya petani ragu dan sulit dalam menggunakan external input. Hal ini terjadi di seluruh negara termasuk indonesia, akan tetapi melalui propaganda yang berlebihan petani pun mulai dapat menerima external input. Kemudian setelah melihat bukti dari penggunaan external input, yang efek dan pengaruhnya dalam peningkatan produktifitas pertanian sangat memuaskan, sehingga petani mulai beralih ke teknologi external input. Selain itu, external input di indonesia di dukung saat kepemimpinan presiden Soeharto, sehingga indonesia dapat swasembada beras.
Tingkat produktifitas lahan mulai tinggi dan dengan stabilitas yang cukup tingggi karena faktor SDA yang masih  baik. Di samping itu, harga external input saat itu masih rendah. Saat itu kerusakan lingkungan yang ditimbulkan masih relatif rendah sehingga sistem pertanian yang berkelanjutan masih tinggi terhadap kearifan lokal. Peningkatan kualitas hidup dan kebutuhan manusia yang menuntut infrastrukur menyebabkan terjadinya alih fungsi lahan. Disisi lain luas pertanian tidak bertambah bahkan yang terjadi mengalami penurunan, sehingga lahan yang sempit akan dimaksimalkan pemanfaatannya.  Kemudian saat lahan sudah mengalami penurunan yang diakibatkan oleh external input , alam / lahan mulai mengalami tekanan eksploitasi secara berlebihan yang melebihi daya dukung dari lingkungannya itu sendiri. Akibatnya lahan mulai mengalami degradasi dan prodiktifitas menurun.
Kemudian karena permasalan itu, manusia mulai memasukan dan memakai berbagai materi dan energi (external input) dala jumlah yang berlebihan. Penggunaan external input yang besar-besaran itu terjadi saat berkembang pesatnya Revolusi Industri (Agrokimia) di Eropa. Disamping itu, dukungan pemerintah untuk external input diberbagai negara sangat tinggi. Akibatnya ketergantungan petani terhadap external input menjadi sangat tinggi, seperti sekarang ini, sehingga menurunnya kearifan lokal terhadap alam dan sistem pertanian berkelanjutan pun menjadi menurun akibat dari penggunaan external input.
                            II.            Pembahasan
Kearifan lokal adalah suatu kebijakan lokal yang merupakan cara adaptasi yang telah ada sejak zaman nenek moyang kita. Kearifan lokal penting untuk dimanfaatkan guna menghadapi external input yang terjadi sampai saat ini sejak Revolusi Industri (Agrokimia) di Eropa. Oleh karena itu, sifat kearifan lokal yang khas pada setiap daerah, tidak bisa dibuat kebijakan yang seragam untuk menerapkan kearifan lokal tersebut. Setiap pemerintah daerah harus menggali dan mengoptimalkan kearifan lokal masing-masing untuk diterapkan di daerahnya.  Kearifan lokal yang berbeda-beda yang tidak bisa disamakan antara setiap daerah membuat suatu daerah berbeda dengan daerah lainnya. Kearifan lokal tidak bisa berpengaruh terhadap kebijakan pemerintah yang membuat kearifan lokal disuatu daerah disamakan dengan daerah lainnya.

Dengan meningkatnya pembangunan nasional dan juga terjadinya peningkatan industrialisasi(produk external input pertanian) diperlukan sarana-sarana yang mendukung lancarnya proses industrialisasi tersebut, yaitu dengan meningkatkan sektor pertanian. External input ialah komponen pertanian yang berasal dari luar komponen dasar penyususn pertanian, yang sengaja dimasukkan guna meningkatkan produktifitas suatu pertanian. Diantara external input yang sering kita jumpai dalam sistem pertanian yaitu:
·      Pupuk
               Terdapat dua jenis pupuk dalam sistem pertanian yang kita kenal, Pupuk organik dann pupuk kimia. Namun dalam pembahasan kami, pupuk kimialah yang mempunyai dampak negatif tehadap kearifan lokal. Salah satu contoh dampak negatif dari penggunaan pupuk kimia yaitu, cara pemupukan para petani yang berubah dari penggunaan pupuk organik ke pupuk kimia. Dan kita lihat saat ini para petani sudah ketergantungan dengan pupuk kimia.  Dahulu, petani sebenarnya sudah ada pengetahuan tentang pertanian yang jauh lebih banyak pengetahuannya, seperti penggunaan pupuk. Pupuk yang digunakan yaitu pupuk kompos. Pupuk kompos dulu dibuat bisa mencapai 2 bulan-an, akan tetapi dengan masuknya external input maka dapat ditemukan cara efektifitas secara cepat untuk membuat pupuk kompos. Tidak hanya itu saja, masuknya atau mulai beralihnya petani dalam penggunaan pupuk kompos itu akan menghilangkannya kearifan lokal. Petani  sekarang ini hanya mencari praktisnya saja, yang dahulu untuk memenuhi kebutuhan tanaman petani membuat pupuk kompos, akan tetapi sekarang ini petani lebih suka membeli. Dapat ditemukan petani sekarang ini yang tidak bisa membuat pupuk kompos. Berikut dampak yang ditimbulkan akibat beralihnya penggunaan EI, yaitu:
-        Petani sekarang tidak bisa membuat pupuk sendiri untuk memenuhi kebutuhan akan tanaman, khususnya membuat pupuk kompos yang nota benenya petani dulu membuat pupuk kompos untuk memenuhi kebutuhan akan tanaman.
-        Petani cenderung lebih suka membeli pupuk dibandingkan membuatnya, khususnya dalam pembelian pupuk kimia.
Semua hal itu telah merubah pola pikir serta perilaku petani sehingga telah hilang suatu  kearifan local yang ada sejak dahulu nenek moyang kita.
·         Pestisida
Dalam bidang pertanian, pestisida merupakan sarana untuk membunuh jasad pengganggu tanaman. Dalam konsep Pengendalian Hama Terpadu, pestisida berperan sebagai salah satu komponen pengendalian, yang mana harus sejalan dengan komponen pengendalian hayati, efisien untuk mengendalikan hama tertentu, mudah terurai dan aman bagi lingkungan sekitarnya. Penerapan usaha intensifikasi pertanian yang menerapkan berbagai teknologi, seperti penggunaan pupuk, varietas unggul, perbaikan pengairan, pola tanam serta usaha pembukaan lahan baru akan membawa perubahan pada ekosistem yang sering kali diikuti dengan timbulnya masalah serangan jasad penganggu. Cara lain untuk mengatasi jasad penganggu selain menggunakan pestisida kadang-kadang memerlukan waktu, biaya dan tenaga yang besar dan hanya dapat dilakukan pada kondisi tertentu. Sampai saat ini hanya pestisida yang mampu melawan jasad penganggu dan berperan besar dalam menyelamatkan kehilangan hasil (Sudarmo, 1991). Sama halnya dengan pengunaan pupuk seperti pada uraian diatas, petani sekarang cenderung malas dalam membuat pestisida itu sendiri yang notabenenya dilakukan sebelum perkembangan teknologi yang semakin tinggi seperti yang dilakukan nenek moyang kita sejak dahulu. Dengan masuknya external input, seperti pupuk dan pestisida yang lebih efisien dalam membuatnya, kemudian munculnya bioteknologi seperti varietas unggul yang nota benenya menggeser bahkan menghilangkan varietas lokal. Petani dahulu sebelum menemukan teknologi yan canggih sebenarya sudah menggukan hal yang digunakan seperti sekarang, semisal dalam membuat pestisida. Dampak yang ditimbulkan oleh penggunaan EI yaitu:
-        Dengan munculnya teknologi yang semakin canggih seperti munculnya perkembangan varietas unggul, yang pada dasarnya hal itu telah menggeser varietas lokal, seperti sekarang ini petani padi lebih suka memakai IR-64 dibandingkan dengan memakai bibit padi dari lokal itu sendiri.
-        Petani lebih malas untuk membuat pestisida sendiri dan cenderung labih suka membeli karena alasan yang praktis.
Hal itu juga akan berpengaruh terhadap sistem pertanian yang berkelanjutan (suistainable agriculture) dan menghilangkan serta menggeser kearifan local (local wishdom) yang sudah ada sejak nenek moyang kita.

·         Teknologi Mesin
Ketergantungan terhadap penggunaan external input, berakibat pada menurunnya kearifan lokal terhadap alam dan sistem pertanian berkelanjutan. Tergerusnya kearifan lokal dibuktikan dengan adanya fenomena-fenomena yang terjadi pada sistem pertanian diberbagai wilayah di Indonesia. Misanya, pada wilayah pertanian di pedesaan, sudah jarang petani menggunakan kerbau untuk membajak sawahnya. Sawah didominasi oleh "Kerbau Jepang bermesin" alias traktor tangan yang menurut anggapan petani lebih praktis dan lebih cepat.
Kondisi seperti ini juga terjadi di hampir semua Negara Asia yang mengandalkan kehidupannya pada bidang pertanian. Masuknya era mekanisme pertanian dalam kurun waktu yang cepat, telah mengubah perilaku petani dan secara signifikan menurunkan populasi kerbau dunia. Padahal kearifan lokal yang diwariskan oleh nenek moyang kita, jauh lebih unggul dan lebih ramah lingkungan jika dibandingkan dengan teknologi modern. Kotoran kerbau dapat sekaligus menjadi pupuk dan penggunaan kerbau jauh dari perilaku konsumtif. Jika petani memelihara kerbaunya dengan baik, maka juga dapat diternakkan atau dikembangbiakkan. Sedangkan penggunaan traktor, lama-kelamaan akan rusak dan hanya menjadi rongsokkan besi tua. Disamping itu penggunaan bahan bakar juga akan mencemari lingkungan. ( Prof. Ronny Rachman Noor, Ir, MRur.Sc, PhD   2011)
Penggunaan mesin-mesin seperti traktor dan sebagainya, yang katanya dapat mempercepat dan memudahkan kegiatan petani, ternyata memiliki dampak negatif. Traktor memiliki massa yang sangat besar. Maka dengan massa yang besar tersebut, traktor memiliki tekanan yang besar untuk menekan tanah sehingga terjadi pemadatan pada struktur tanah. Akibatnya, lama-kelamaan akann terjadi kerusakan fatal pada struktur tanah. Dampak yang ditimbulkan sebenarnya sama seperti pada uraian diatas yaitu:
-        Petani lebih suka menggunakan traktor mesin dibandingkan dengan kerbau untuk membajak sawahnya. Alasannya sama, petani lebih suka kepraktisan dan efisien waktu yang notabenenya dapat merusak struktur tanah seperti yang diuraikan diatas. Hal itu membuat hilangnya kearifan lokal yang sudah ada sejak dahulu.
Menurut Suwanto (1994), kondisi pertanian di Indonesia di masa mendatang banyak yang akan diarahkan untuk kepentingan agroindustri. Salah satu bentuknya akan mengarah pada pola pertanian yang makin monokultur, baik itu pada pertanian darat maupun akuakultur. Perubahan sistem pertanian multikultur menjadi pertanian monokultur sehingga sangat berpengaruh pada kearifan lokal dari sistem pertanian itu. Perubahan yang terjadi tidak  hanya dari perubahan sistem pertanian, tetapi juga dari penggunaan external input, seperti penggunaan pupuk dan pestisida kimia, sehingga berdampak pada kerusakan lingkungan, khususnya pertanian yang pada akhirnya akan menggeser dan bahkan menghilangkan kearifan lokal yang ada.
Terdapat dua faktor pendorong penggunaan external input dalam sistem pertanian modern. Kebutuhan manusia yang semakin meningkat seiring bertambahnya jumlah manusia di bumi, dan semakin sempitnya lahan pertanian karena alih fungsi lahan.
                         III.            Kesimpulan
               Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa kearifan lokal adalah suatu kebijakan lokal yang merupakan cara adaptasi yang telah ada sejak zaman nenek moyang kita. Kearifan lokal penting untuk dimanfaatkan guna menghadapi external input yang terjadi sampai saat ini sejak Revolusi Industri (Agrokimia) di Eropa. Kearifan lokal dapat dipengaruhi oleh external input yaitu pupuk dan pestisida kimia yang sudah dipropaganda besar-besaran Revolusi Industri di Eropa yang pada akhirnya menimbulkan kerusakan lingkungan karena penggunaan EI tidak bijak, tidak hanya itu, perubahan poa pikir dan tindakan petani mengakibatkan berubahnya kearifan lokal yang sudah ada sejak nenek moyang terdahulu dan mempengaruhi sistem pertanian yang berkelanjutkan (suistainable agriculture).
                         IV.            Saran
ü                   Mengadakan penyuluhan tentang pentingnya pengembalian kearifan lokal guna menuju pertanian         berkelanjutan.
ü                         Meningkatkan efektifitas penggunaan external input dengan penggunaan secara bijak dan efisien.
Daftar pustaka
Noor, RR dan Mrur,Sc.2011. Tergerusnya Kearifan Lokal. Research and Community Services Institute - Bogor Agricultural University. http://www.dikti.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=1924:tergerusnya-kearifan-lokal&catid=159:artikel-kontributor.  Diakses tanggal 16 April 2012
Anamofa, J.N.2012.  Kearifan Lokal Guna Memecahkan Masalah. http://tal4mbur4ng.blogspot.com/2010/07/kearifan-lokal-guna-pemecahan-masalah.html. diakses tanggal 16 April  2012
Sa’id, E.G., 1994. Dampak Negatif Pestisida, Sebuah Catatan bagi Kita



1 komentar: