Halaman

Minggu, 16 Desember 2012

Gulma pada padi


Problematika Rekayasa Budidaya Tanaman

Kasus Gulma pada Padi
Dosen pengampu : Ir. Agus Nugraha S, MP


Disusun oleh:

1.      Akhmad Bustamil                   20110210049
2.      Aditya Yuda Ramdhoni           20110210058
3.      Aida Rizqanna                         20110210040
4.      Wulan Prasetyo                       20110210063








Program Studi Agroteknologi
Fakultas Pertanian
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
2012


                   I.                        Kasus

Guna meningkat produktivitas tanaman padinya, petani di wilayah Monyudan sleman yang merupakan sentra padi di DIY mencoba mengikuti petunjuk dari Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) menggunakan bibit berumur muda dengan penanaman tunggal dan jarak tanam lebar. Daerah tersebut sebenarnya mempunyai sistem irigasi yang baik namun, petani menjaga kelengasan tanahnya dengan tidak tergenang dan hanya macak-macak atau lembab saja. Dengan kondisi yang seperti itu, menyebabkan pertumbuhan gulma menjadi lebih banyak sehingga menimbulkan permasalahan bagi petani. Pertumbuhan bibit padi kalah cepat dibandingkan pertumbuhan gulma sehingga keberadaan gulma mengganggu tanaman. Bagaimana cara mengatasi permasalahan tersebut?

                II.                        Tinjauan pustaka

A.    Padi
a.       Sejarah Padi
Padi (bahasa latin: Oryza sativa L.) merupakan salah satu tanaman budidaya terpenting dalam peradaban. Meskipun terutama mengacu pada jenis tanaman budidaya, padi juga digunakan untuk mengacu pada beberapa jenis dari marga (genus) yang sama, yang biasa disebut sebagai padi liar. Padi diduga berasal dari India atau Indocina dan masuk ke Indonesia dibawa oleh nenek moyang yang migrasi dari daratan Asia sekitar 1500 SM. Tanaman pertanian kuno berasal dari dua benua yaitu Asia dan Afrika Barat tropis dan subtropis. Bukti sejarah memperlihatkan bahwa penanaman padi di Zhejiang (Cina) sudah dimulai pada 3.000 tahun SM. Fosil butir padi dan gabah ditemukan di Hastinapur Uttar Pradesh India sekitar 100-800 SM. Selain Cina dan India, beberapa wilayah asal padi adalah, Bangladesh Utara, Burma, Thailand, Laos, Vietnam. Tanaman padi temasuk golongan tanaman semusim (setahun). Padi dapat hidup dalam berbagai keadaan tanah, namun pada umumya padi ditanam dalam keaadaan tergenang. Terdapat 25 spesies Oryza, yang dikenal adalah O. sativa dengan dua subspesies yaitu Indica (padi bulu) yang ditanam di Indonesia dan Sinica (padi cere). Padi dibedakan dalam dua tipe yaitu padi kering (gogo) yang ditanam di dataran tinggi dan padi sawah di dataran rendah yang memerlukan penggenangan.
b.      Syarat Tumbuh
            Padi dapat tumbuh pada ketinggian 0-1500 mdpl dengan temperatur 19 - 270 C, memerlukan penyinaran matahari penuh tanpa naungan. Angin berpengaruh pada penyerbukan dan pembuahan. Padi menghendaki tanah lumpur yang subur dengan ketebalan 18-22 cm dan pH tanah 4 - 7.
c.       Pola Pertumbuhan Padi


Fase Vegetatif

Fase vegetatif adalah awal pertumbuhan tanaman, mulai dari perkecambahan benih sampai primordia bunga (pembentukan malai).

1)                                          Tahap Perkecambahan benih (germination)
Pada fase ini benih akan menyerap air dari lingkungan (karena perbedaan kadar air antara benih dan lingkungan), masa dormansi akan pecah ditandai dengan kemunculan radicula dan plumule. Faktor yang mempengaruhi perkecambahan benih adalah kelembaban, cahaya dan suhu. Petani biasanya melakukan perendaman benih selama 24 jam kemudian diperam 24 jam lagi. Tahan perkecambahan benih berakhir sampai daun pertama muncul dan ini berlangsung 3-5 hari.
2)                                          Tahap Pertunasan (seedling stage)
Tahap pertunasan mulai begitu benih berkecambah hingga menjelang anakan pertama muncul. Umumnya petani melewatkan tahap pertumbuhan ini di persemaian. Pada awal di persemaian, mulai muncul akar seminal hingga kemunculan akar sekunder (adventitious) membentuk sistem perakaran serabut permanen dengan cepat menggantikan radikula dan akar seminal sementara. Di sisi lain tunas terus tumbuh, dua daun lagi terbentuk. Daun terus berkembang pada kecepatan 1 daun setiap 3-4 hari selama tahap awal pertumbuhan sampai terbentuknya 5 daun sempurna yang menandai akhir fase ini. Dengan demikian pada umur 15 – 20 hari setelah sebar, bibit telah mempunyai 5 daun dan sistem perakaran yang berkembang dengan cepat. Pada kondisi ini, bibit siap dipindahtanamkan.
3)                                          Tahap Pembentukan anakan (tillering stage)
Setelah kemunculan daun kelima, tanaman mulai membentuk anakan bersamaan dengan berkembangnya tunas baru. Anakan muncul dari tunas aksial (axillary) pada buku batang dan menggantikan tempat daun serta tumbuh dan berkembang. Bibit ini menunjukkan posisi dari dua anakan pertama yang mengapit batang utama dan daunnya. Setelah tumbuh (emerging), anakan pertama memunculkan anakan sekunder, demikian seterusnya hingga anakan maksimal.
            Pada fase ini, ada dua tahapan penting yaitu pembentukan anakan aktif kemudian disusul dengan perpanjangan batang (stem elongation). Kedua tahapan ini bisa tumpang tindih, tanaman yang sudah tidak membentuk anakan akan mengalami perpanjangan batang, buku kelima dari batang di bawah kedudukan malai, memanjang hanya 2-4 cm sebelum pembentukan malai. Sementara tanaman muda (tepi) terkadang masih membentuk anakan baru, sehingga terlihat perkembangan kanopi sangat cepat. Secara umum, fase pembentukan anakan berlangsung selama kurang lebih 30 hari.
            Pada tanaman yang menggunakan sistem tabela (tanam benih langsung) periode fase ini mungkin tidak sampai 30 hari karena bibit tidak mengalami stagnasi seperti halnya tanaman sistem tapin yang beradaptasi dulu dengan lingkungan barunya sesaat setelah pindah tanam.

Penggunaan pupuk nitrogen (urea) berlebihan atau waktu aplikasi pemupukan susulan yang terlambat memicu pembentukan anakan lebih lama (lewat 30 hst), namun biasanya anakan yang terbentuk tidak produktif.
*      Fase Generatif


Fase Reproduktif
1)                                          Tahap Inisiasi Bunga / Primordia (Panicle Initiation)

            Perkembangan tanaman pada tahapan ini diawali dengan inisiasi bunga (panicle initiation). Bakal malai terlihat berupa kerucut berbulu putih (white feathery cone) panjang 1,0-1,5 mm. Pertama kali muncul pada ruas buku utama (main culm) kemudian pada anakan dengan pola tidak teratur. Ini akan berkembang hingga bentuk malai terllihat jelas sehingga bulir (spikelets) terlihat dan dapat dibedakan. Malai muda meningkat dalam ukuran dan berkembang ke atas di dalam pelepah daun bendera menyebabkan pelepah daun menggembung (bulge). Penggembungan daun bendera ini disebut bunting sebagi tahap kedua dari fase ini (booting stage).

2)                                          Tahap Bunting (booting stage)
            Bunting terlihat pertama kali pada ruas batang utama. Pada tahap bunting, ujung daun layu (menjadi tua dan mati) dan anakan non-produktif terlihat pada bagian dasar tanaman.
3)                                          Tahap Keluar Malai (heading stage)
            Tahap selanjutnya dari fase ini adalah tahap keluar malai. Heading ditandai dengan kemunculan ujung malai dari pelepah daun bendera. Malai terus berkembang sampai keluar seutuhnya dari pelepah daun.  Akhir fase ini adalah tahap pembungaan yang dimulai ketika serbuk sari menonjol keluar dari bulir dan terjadi proses pembuahan.
4)                                          Tahap Pembungaan (flowering stage)
            Pada pembungaan, kelopak bunga terbuka, antera menyembul keluar dari kelopak bunga (flower glumes) karena pemanjangan stamen dan serbuksari tumpah (shed). Kelopak bunga kemudian menutup. Serbuk sari atau tepung sari (pollen) jatuh ke putik, sehingga terjadi pembuahan. Struktur pistil berbulu dimana tube tepung sari dari serbuk sari yang muncul (bulat, struktur gelap dalam ilustrasi ini) akan mengembang ke ovary.
            Proses pembungaan berlanjut sampai hampir semua spikelet pada malai mekar. Pembungaan terjadi sehari setelah heading. Pada umumnya, floret (kelopak bunga) membuka pada pagi hari. Semua spikelet pada malai membuka dalam 7 hari. Pada pembungaan, 3-5 daun masih aktif. Anakan pada tanaman padi ini telah dipisahkan pada saat dimulainya pembungaan dan dikelompokkan ke dalam anakan produktif dan nonproduktif.
            Fase reproduktif yang diawali dari inisiasi bunga sampai pembungaan (setelah
putik dibuahi oleh serbuk sari) berlangsung sekitar 35 hari. Pemberian zat pengatur tumbuh atau penambahan hormon tanaman (pythohormon) berupa gibberlin (GA3) dan pemeliharaan tanaman dari serangan penyakit sangat diperlukan pada fase ini. Perbedaan lama periode fase reproduktif antara padi varietas genjah maupun yang berumur panjan tidak berbeda nyata. Ketersediaan air pada fase ini sangat diperlukan, terutama pada tahap terakhir diharapkan bisa tergenang 5 – 7 cm.




Fase Pemasakan / Pematangan
1)                                          Tahap matang susu ( Milk Grain Stage )
Tiga tahap akhir pertumbuhan tanaman padi merupakan fase pemasakan. Pada tahap ini, gabah mulai terisi dengan bahan serupa susu. Gabah mulai terisi dengan larutan putih susu, dapat dikeluarkan dengan menekan/menjepit gabah di antara dua jari. Malai hijau dan mulai merunduk. Pelayuan (senescense) pada dasar anakan berlanjut. Daun bendera dan dua daun di bawahnya tetap hijau. Tahap ini paling disukai oleh walang sangit. Pada saat pengisian, ketersediaan air juga sangat diperlukan. Seperti halnya pada fase sebelumnya, pada fase ini diharapkan kondisi pertanaman tergenang 5 – 7 cm.
2)                                          Tahap gabah ½ matang (dough grain stage)
            Pada tahap ini, isi gabah yang menyerupai susu berubah menjadi gumpalan lunak dan akhirnya mengeras. Gabah pada malai mulai menguning. Pelayuan (senescense) dari anakan dan daun di bagian dasar tanaman nampak semakin jelas. Pertanaman terlihat menguning. Seiring menguningnya malai, ujung dua daun terakhir pada setiap anakan mulai mengering.
3)                                          Tahap gabah matang penuh (Mature Grain Stage)
            Setiap gabah matang, berkembang penuh, keras dan berwarna kuning. Tanaman padi pada tahap matang 90 – 100 % dari gabah isi berubah menjadi kuning dan keras. Daun bagian atas mengering dengan cepat (daun dari sebagian varietas ada yang tetap hijau). Sejumlah daun yang mati terakumulasi pada bagian dasar tanaman. Berbeda dengan tahap awal pemasakan, pada tahap ini air tidak diperlukan lagi, tanah dibiarkan pada kondisi kering. Periode pematangan, dari tahap masak susu hingga gabah matang penuh atau masak fisiologis berlangsung selama sekitar 35 hari.
d.      Kebutuhan Air  Tanaman Padi
Penggenangan air dilakukan pada fase awal pertumbuhan, pembentukan anakan, pembungaan dan masa bunting. Sedangkan pengeringan hanya dilakukan pada fase sebelum bunting bertujuan menghentikan pembentukan anakan dan fase pemasakan biji untuk menyeragamkan dan mempercepat pemasakan biji. Kondisi tanah tidak tergenang, yang dikombinasi dengan pendangiran mekanis, akan menghasilkan lebih banyak oksigen masuk ke dalam tanah dan akar berkembang lebih besar sehingga dapat menyerap nutrisi lebih banyak (Uphoff 2004). Setelah pembngaan sawah digenangi air 1 sampai 3 cm.

B.     Gulma
Gulma merupakan tumbuhan yang hidup sendirinya pada waktu dan tempat yang tidak dikehendaki. Gulma menjadi masalah yang tetap karena selalu menyaingi tanaman utama (pokok) dalam pengambilan unsur hara, air dan cahaya.
a.       Karakteristik Gulma
Penggolongan gulma dapat dikelompokan berdasarkan karakteristik tertentu:
1 . Morfologi
Berdasarkan morfologinya gulma dapat di bedakan sebagai berikut
·         Golongan rerumputan (gresses)
            Golonga ini termasuk kedalam family gramineae. Family ini memiliki daya adaptasi yang cukup tinggi distribusnya sangat luas dan mampu tumbuh baik pada lahan kering dan tergenang(sawah). Ciri-ciri umum gulma golongan rerumputan sebagai berikut:
a.       Bentuk batang silindris, ada yang pipih
b.      Batang biasanya berongga
c.       Daunnya tunggal
d.      Duduk daun berselang- seling
e.       Tulang daun sejajar dan ditengah helaiannya terdapat ibu tulang daun
f.       Daun terdiri dari pelepah dan helaiaan daun yang tepinya rata
g.      Lidah dan tertampak jelas pada batas antaraa pelepah dan helai daun.
h.      Bunga tersusun dalam butir
i.        Butir tersusun dari anak butir (Spikelet) yang bertangkai, meskipun da pula yang tidak bertangkai ( sessile)
j.        Setiap anak tersusun dari satu atau lebih dari bunga kecil (floret)
k.      Biasanya setiap bunga kecil dikelilingi oleh pasangan daun pelindung (bractea)
l.        Bakal buah beruang satu dan berbiji satu
m.    Buanya sering disebut “caryopsis”
n.      Bentuk buah ada yang bulat yang memanjang atau datar cembung (planoconvex). Contoh gulma golongan rerumputan antara lain alang-alang (Impirata cylindrical L.), rumput pahit (axonopus compressus), jampang pahit (Paspalum conjugatum), belulang (Elausine indica L.), jajagoan (Echinochloa crusgalli).
·         Golongan Teki (Sedges)
            Golongan teki meliputi semua jenis gulma yang termasuk kedalam family Cyperaceae. Terdiri atas 90 genera dan 4000 spesies. Ciri-cirinya:
a.       Pada umumnya batang berbentuk segitiga, kadang bulat atau pipih.
b.      Daun duduk dan berbentuk pita dengan urat daun membujur.
c.       Tanaman tidak memiliki idah daun. Contoh gulma golongan teki: Teki (Cyperus rotundus L.), walingi (scirpus grossus L.F), rumput tiga segi (Cyperus compresssus L.)
·      Golingan berdaun lebar (broadleaf of weed)
Ciri-cirinya:
a.       Ukuran daunnya lebar
b.      Tulang daun berbentuk jaringan
c.       Terdapat tunas tambahan pada setiap ketiak daun.
b.      Habitat
·         Gulma darat
Tumbuh pada lahan kering dan apabila tergenag air akan mati. Contoh: teki, alang-alang, rumput setawar.
·         Gulma air
Gulma yang  tumbuh sebagian atau seluruh hidupnya berada di air. Contoh: eceng gondok, kayambang.
c.       Daur Hidup
·                                              Gulma Semusim
Gulma yang umurnya kurang dari 1 tahun. Contoh: bayam duri, teki, ekor tikus, dan babandotan.
·                                              Gulma Dwimusim
Guma yang berumur 1-2 tahun. Contoh: putri malu, daun sendok, sunduk welut.
·         Gulma Tahunan
Hidupnya lebih dari 2 tahun. Contoh: kremek, alang-alang, kolomento.

d.      Kerugian akibat Gulma
      Keberadaan gulma pada area tanaman budidaya dapat menimbulkan kerugian kuantitas maupun kualitas produksi, diantaranya:
·         Penurunan hasil pertanian karena persaingan dalam perolehan air, udara dan unsure hara.
·         Penurunan kualitas hasil karena biji tanaman tercampur dengan biji gulma.
·         Gulma menjadi inang hama dan penyakit, misalnya kolomento (Leersiahexandra)  sebagai tumbuhan inang hama penggerek batang padi, jajagoan sebagai inang penyakit tungro, dan muluhan sebagai inag hama walangsangit.
·         Meningkatkan biaya produksi karena adanya tanaga dan waktu pengerjaan tanah, penyiangan.

             III.                        Pengendalian
Teknik pengendalian gulma (weed control) adalah usaha mematikan gulma dalam jumlah cukup sehingga sisa gulma yang masih ada tidak dapat menyaingi tanaman pokok atau merugikan manusia. Prosedur pengendalian gulma digolongkan menjadi 6 kategori, yaitu:
a.       Pencegahan (preventif)
Ditujukan untuk menghalangi atau mencegah perkembangbiakan biji gulma dari satu tempat ke tempat lain. misalnya dengan cara menggunakan benih bebas gulma dan manggunakan pupuk kandang yang matang.
b.      Mekanik
Untuk menekan pertumbuhan gulma dengan cara mematikan atau merusak sebagian atau seluru gulma agar gulma mati. Terdiri dari penyianagn, pembabatan, dan pembakaran.
c.       Biologis
Menggunakan organism hidup misalnya binatang, ternak atau tumbuhan. Organisme pengendalian harus aman, bersifat monofak, dan dapat diatur penyebarannya.
d.      Kultur teknis
Dalam pengendalian ini didasarkan pada segi ekologi yaitu berusaha menciptakan kondisi lingkungan yang sesuai dengan tanaman budidaya, sehingga baik dan dapat bersaing dengan gulma.
e.       Kimiawi
Menggunkan herbisida untuk menghabat atau mematikan gulma.
f.       Terpadu
Mempraktekkan teknik pengendalian atau menekan pertumbuhan dan mematikan gulma sampai batas dan secara ekonomi tidak merugikan.

             IV.                        Pembahasan
Setelah melihat dari kasus diatas bahwa seorang petani mencoba menerapkan sistem pertanian dari PPL dengan menggunakan bibit muda dan penanaman tunggal serta jarak tanam lebar. Setelah kami identifikasikan bahwa sistem ini termasuk sistem tanam SRI (The system of Rice intensificasion). SRI menggunakan bibit ditranplantasi satu-satu daripada  secara berumpun. Ini dimaksudkan agar tanaman memiliki ruang untuk menyebar dan memperdalam perakaran. Sehingga tanaman tidak bersaing terlalu ketat untuk memperoleh ruang tumbuh, cahaya, atau nutrisi dalam tanah.  Sistem perakaran menjadi sangat berbeda saat tanaman ditanam satu-satu. Hal ini sesuai dengan prinsip-prinsip dari sistem tanam SRI, yaitu:
1.      Tanaman bibit muda berusia kurang dari 12 hari setelah semai (bus) ketika bibit masih berdaun 2 helai
2.      Bibit ditanam satu pohon perlubang dengan jarak 30 x 30, 35 x 35 atau lebih jarang
3.      Pindah tanam harus sesegera mungki (kurang dari 30 menit) dan harus hati-hati agar akar tidak putus dan ditanam dangkal
4.      Pemberian air maksimal 2 cm (macak-macak) dan periode tertentu dikeringkan sampai pecah (Irigasi berselang/terputus)
5.      Penyiangan sejak awal sekitar 10 hari dan diulang 2-3 kali dengan interval 10 hari
6.      Sedapat mungkin menggunakan pupuk 0rganik ( kompos atau pupuk hijau)
Masalah yang ditimbulkan yaitu pertumbuhan bibit padi kalah cepat dibandingkan pertumbuhan gulma sehingga keberadaan gulma mengganggu tanaman. Hal dikarenakan dengan jarak tanam yang lebar selain menguntungkan bagi tanaman padi itu sendiri juga sangat menguntungkan bagi gulma. Jarak tanam yang lebar memberikan kesempatan pada gulma-gulma tumbuh dengan banyak dan bersaing dalam hal unsur hara yang ada di tanah dengan tanaman padi. Karena padi ditanam dengan satu lubang satu bibit dan bibitnya pun masih muda sehingga padi kalah saing dalam perebutan makanan (unsur hara) yang notabenenya gulma itu pertumbuhannya sangat cepat.
Dalam hal ini kita tidak bisa merubah teknologi yang sudah ada. Karena dengan teknologi itu justru akan memberikan produksi yang tinggi. Dari beberapa masalah tersebut dapat dilakukan dengan cara pengendalian jangka pendek dan jangka panjang. Jangka pendek dapat dilakukan dengan beberapa pengendalian yaitu:
a)                  Mekanik yaitu penyiangan sejak awal sekitar 10 hari dan diulang 2-3 kali dengan interval 10 hari atau dengan penggunaan landak gosrok 4 kali.
b)                                    Terpadu
Mempraktekkan teknik pengendalian atau menekan pertumbuhan dan mematikan gulma sampai batas dan secara ekonomi tidak merugikan. Jika secara ambang ekonomi gulma itu tidak merugikan bagi tanaman padi maka tidak di kendalikan juga tidak masalah karena tidak menurunkan produktivitas tanaman itu.
c)                                    Penggenangan
Penggenangan efektif untuk memberantas gulma tahunan. Caranya dengan menggenangi sedalam 15 - 25 cm selama 3 - 8 minggu. Gulma yang digenangi harus cukup terendam, karena bila sebagian daunnya muncul di atas air maka gulma tersebut umumnya masih dapat hidup.
d)                                   Biologis
Menggunakan organism hidup misalnya binatang, ternak atau tumbuhan. Organisme pengendalian harus aman, bersifat monofak, dan dapat diatur penyebarannya. Pengendalian gulma secara biologis di areal persawahan dilakukan dengan menggunakan serangga, jamur, dan bisa juga dari gulma sendiri. Keadaan tumbuh gulma yang lebat dapat juga dimanfaatkan untuk dapat menekan gulma yang ada di permukaan tanah. Biji-biji gulma yang ada pada permukaan tanah kekurangan O2 dan kelebihan CO2 sehingga biji gulma tidak dapat berkecambah. Hal ini disebabkan karena biji gulma di permukaan tanah terendam oleh air sehingga biji gulma tersebut tidak dapat tumbuh, selain itu sifat gulma yang dapat menekan pertumbuhan gulma lainnya adalah cepat dan lambatnya gulma tumbuh di permukaan air. Walaupun berkecambah tidak dapat menembus (tetap terendam) di bawah permukaan tanah sehingga tidak dapat menekan pertumbuhan gulma di permukaan tanah. Misalnya Salvinia molesta, Azolla pinnata (mengandung 5 % kadar bahan kering gulma). Salvinia molesta mempunyai daya saing yang rendah terhadap tanaman padi.
            Keuntungan memanfaatkan Salvinia molesta dalam mengendalikan gulma yang lain ialah Salvinia molesta hanya memanfaatkan zat hara yang terdapat di dalam air sehingga tanaman padi tidak terganggu oleh adanya kompetisi hara. Selain keuntungan, terdapat juga kerugian menggunakan Salvinia molesta sebagai pengendali untuk gulma lain ialah tidak bisa digunakan untuk Tabela, mengambang di permukaan air.
e)                                    Kimiawi
Menggunkan herbisida untuk menghabat atau mematikan gulma. Prinsip gulma kerja herbisida ini yaitu ada dua, yaitu herbisida kontak dan sistemik. Herbisida kontak yaitu mampu mematikan gulma jika terjadi kontak atau menempel pada bagian tanaman tersebut. Sedangkan sitemik  terlebih dahulu masuk melalui akar dan mulut daun lalu disalurkan ke seluruh tubuh tanaman sehingga akan menggganggu metabolisme. Untuk gulma tanaman padi, herbisida yang digunakan antara lain Ally 20 WDG, Ronstar 250 EC, Saturn D6 G, dan Weedrol 720 AC.
Selain dari pengendaalian jangka pendek juga dapat dilakukan pengendalian jangka panjang, yaitu:
a)                              Kultur teknis
Dalam pengendalian ini didasarkan pada segi ekologi yaitu berusaha menciptakan kondisi lingkungan yang sesuai dengan tanaman budidaya, sehingga baik dan dapat bersaing dengan gulma.
Contoh pengendalian kultur teknis ini yaitu dengan  
Ø  Penggunaan benih tanaman bebas gulma dengan menyeleksi benih tanaman budidaya dari biji gulma.
Ø  Pengolahan tanah dimaksudkan untuk mematikan gulma yang masih tumbuh. Gulma pada tanaman padi hidup pada kondisi tanah basah, setelah pemanenan sebelum penanaman berikutnya, tanah perlu dibuat kering agar gulma mati karena ia tidak dapat hidup dalam keadaan kering.
Ø Pergiliran tanaman yang bertujuan untuk mengatur dan menekan populasi gulma dalam ambang yang tidak membahayakan. Contoh : padi – tebu – kedelai, padi – tembakau – padi. Tanaman tertentu biasanya mempunyai jenis gulma tertentu pula, karena biasanya jenis gulma itu dapat hidup dengan leluasa pada kondisi yang cocok untuk pertumbuhannya. Sebagai contoh gulma teki (Cyperus rotundus) sering berada dengan baik dan mengganggu pertanaman tanah kering yang berumur setahun (misalnya pada tanaman cabe, tomat, dan sebagainya). Demikian pula dengan wewehan (Monochoria vaginalis) di sawah-sawah. Dengan pergiliran tanaman, kondisi mikroklimat akan dapat berubah-ubah, sehingga gulma hidupnya tidak senyaman sebelumnya.
Ø Pemupukan menggunakan pupuk yang matang.

b)      Pengendalian gulma secara tidak langsung ialah dengan membuat undang-undang karantina hal ini dimaksudkan agar gulma dari luar tidak masuk ke dalam suatu daerah, selain itu juga dengan menggunakan varietas unggul, pemupukan yang berimbang, dan menggunakan bahan tanam atau alat-alat pertanian yang bebas dari biji gulma.

                V.                        Kesimpulan
Dari pembahasan diatas dan identifikasi permasalahan dapat disimpulkan bahwa metode yang diterapkan petani itu sesuai dengan sistem tanam SRI yang menggunakan penanaman tunggal dan jarak tanam yang lebar dan menggunakan bibit padi muda yang umurnya kurang dari 12 hari setelah semai ketika bibit masih berdaun 2 helai. Hal ini menimbulkan permasalahan bahwa padi kalah saing dengan pertumbuhan gulma yang cepat. Dari masalalah itu dapat dikendalikan dengan dua cara yaitu pengendalian jangka pendek dan jangka panjang. Pengendalian jangka pendek diantaranya yaitu mekanik berupa penyiangan, terpadu, kimia dengan menggunakan herbisida diantaranya Ally 20 WDG, Ronstar 250 EC, Saturn D6 G, dan Weedrol 720 AC, serta biologi misalnya menggunakan Salvinia molesta, Azolla pinnata yang dapat menekan pertumbuhan gulma lainnya. Pengendalian jangka panjang yaitu secara kultur teknis dengan penggunaan benih tanaman bebas gulma, pengolahan tanah dan pergiliran tanaman untuk memutus daur hidup gulma dan pemupukan menggunakan pupuk yang matang.



DAFTAR PUSTAKA


Anonim.2012. faktor-faktor biotik dalam ekosistem sawah. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/22086/4/Chapter%20II.pdf diakses tanggal 23 September 2012
Anonim.2012. fase pertumbuhan tanaman padi. http://pejuang-pangan.blogspot.com/2011/07/fase-stadia-pertumbuhan-tanaman-padi.html diakses tanggal 24 september 2012
Kanisious. 1973. Tanah dan Pertanian. Penerbit Kanisius. Yogyakarta. 70 hal
Rukmana, Rahmat. 2003. Gulma dan Teknik Pengendalian. Penerbit Kanisius. Yogyakarta. 88 hal.

1 komentar: