Halaman

Minggu, 16 Desember 2012

penyiapan lahan


Problematika Rekayasa Budidaya Tanaman

Penyiapan Lahan

Dosen Pengampu : Ir. Titiek Widyastuti, MS



Disusun oleh:

1.      Akhmad Bustamil                       20110210049
2.      Ardiana Seto Nugroho               20110210046
3.      Aditya Yudha Ramdhoni          20110210058
4.      Marzuki Masrian                        20110210061






Program Studi Agroteknologi
Fakultas Pertanian
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
2012

                                                                                                                                                      I.            PENDAHULUAN

A.    Latar belakang


Tanaman utama pertanian di Indonesia adalah padi. Padi merupakan tanaman pangan yang menghasilkan beras sebagai sumber makanan pokok sebagian besar penduduk Indonesia. Pada pelita IV Indonesia pernah menjadi salah satu negara pengeksport beras yaitu dengan dicapainya swasembada beras. Namun saat ini Indonesia kembali terpuruk menjadi negara pengimport beras. Demikian juga lahan pertanian yang semakin sempit sebagai salah satu penyebab utamanya.
Pada saat sekarang, intensifikasi pertanian perlu dilakukan karena mengingat lahan pertanian yang semakin sempit akibat alih fungsi lahan pertanian menjadi non pertanian (>500 Ha/tahun) dan akibat pengaruh era globalisasi. Intensifikasi tersebut merupakan pengolahan lahan pertanian yang ada dengan sebaik-baiknya untuk meningkatkan hasil pertanian dengan menggunakan berbagai sarana. Adapun sapta usaha tani dalam bidang pertanian meliputi kegiatan sebagai berikut : pengolahan tanah yang tepat, pengairan yang teratur, pemilihan bibit unggul, pemupukan, pemberantasan hama dan penyakit tanaman, pengolahan pasca panen dan pemasaran.
Pemupukan merupakan salah satu cara yang harus dilakukan untuk meningkatkan produksi padi. Sementara itu penggunaan pupuk anorganik secara intensif dan pengunaan lahan secara terus menerus untuk mengejar hasil yang tinggi akan menyebabkan degradasi lahan, seperti menurunkan kandungan bahan organik dan khususnya kesuburan tanah sehingga produktivitas lahan juga menurun. Oleh karena itu pemanfaatan bahan organik sebagai pupuk organik yang dapat mensuplai kebutuhan unsur hara tanaman padi sangat perlu untuk dilakukan.
Petani melupakan salah satu sumber daya yang dapat mempertahankan kesuburan dan bahan organik tanah, yaitu dengan menggunakan jerami dan pupuk kandang . Pupuk kandang merupakan pupuk yang penting di Indonesia. Selain jumlah ternak lebih tinggi sehingga volume bahan ini besar, secara kualitatif relatif lebih kaya hara dan mikrobia dibandingkan limbah pertanian. Petani tradisional sering tidak memanfaatkan jerami sebagai bahan organik. Petani lebih sering membakar jerami padi tersebut. Pemanfaatan jerami sisa panen padi untuk kompos secara bertahap dapat mengembalikan kesuburan tanah dan meningkatkan produksi padi. Penggunaan bahan organik bermanfaat untuk meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk kimia, sehingga dosis pupuk dan dampak pencemaran lingkungan akibat penggunaan pupuk kimia dapat secara nyata dikurangi.

B.     SEKILAS TENTANG TANAMAN PADI

                  a.            Arti penting dan Manfaat Padi bagi kehidupan manusia

Padi merupakan tanaman yang paling penting di Indonesia, karena Padi merupakan bahan makanan yang menghasilkan beras. Bahan makanan ini merupakan makanan pokok bagi sebagian besar penduduk Indonesia. Selain di Indonesia Padi juga menjadi makanan pokok negara-negara di benua Asia lainnya seperti China, India, Thailand, Vietnam dan lain-lain. Meskipun padi dapat digantikan oleh makanan lainnya, namun padi memiliki nilai tersendiri bagi orang yang biasa makan nasi dan tidak dapat dengan mudah digantikan oleh bahan makanan yang lain. Padi adalah salah satu bahan makanan yang mengandung gizi dan penguat yang cukup bagi tubuh manusia, sebab didalamnya terkandung bahan yang mudah diubah menjadi energi. Oleh karena itu padi disebut juga makanan energi.
Menurut Collin Clark Papanek, nilai gizi yang diperlukan oleh setiap orang dewasa adalah 1821 calori yang apabila disetarakan dengan beras maka setiap hari diperlukan beras sebanyak 0,88 kg. Beras mengandung berbagai zat makanan antara lain: karbohidrat, protein, lemak, serat kasar, abu dan vitamin. Disamping itu beras mengandung beberapa unsur mineral antara lain: kalsium, magnesium, sodium, fosphor dan lain sebagainya.
Negara produsen padi terkemuka adalah Republik Rakyat Cina (31% dari total produksi dunia), India (20%), dan Indonesia (9%). Namun hanya sebagian kecil produksi padi dunia yang diperdagangkan antar negara (hanya 5%-6% dari total produksi dunia). Thailand merupakan pengekspor padi utama (26% dari total padi yang diperdagangkan di dunia) diikuti Vietnam (15%) dan Amerika Serikat (11%). Indonesia merupakan pengimpor padi terbesar dunia (14% dari padi yang diperdagangkan di dunia) diikuti Bangladesh (4%), dan Brazil (3%).

                  b.            Jenis Tanaman

Padi merupakan tanaman berupa rumput berumpun. Tanaman pertanian ini berasal dari dua benua yaitu Asia dan Afrika Barat tropis dan subtropis. Bukti sejarah memperlihatkan bahwa penanaman padi di Zhejiang (Cina) sudah dimulai pada 3.000 tahun SM. Fosil butir padi dan gabah ditemukan di Hastinapur Uttar Pradesh India sekitar 100-800 SM. Selain Cina dan India, beberapa wilayah asal padi adalah Bangladesh Utara, Burma, Thailand, Laos, Vietnam.
Klasifikasi botani tanaman padi adalah sebagai berikut :
Ø  Divisi         : Spermatophyta
Ø  Sub divisi : Angiospermae
Ø  Kelas         : Monotyledonae
Ø  Keluarga    : Gramineae (Poaceae)
Ø  Genus        : Oryza
Ø  Spesies      : Oryza spp

                   c.            Jenis-jenis Padi

         1.         Padi Gogo
      Di beberapa daerah tadah hujan orang mengembangkan padi gogo, suatu tipe padi lahan kering yang relatif toleran tanpa penggenangan seperti di sawah. Di Lombok dikembangkan sistem padi gogo rancah, yang memberikan penggenangan dalam selang waktu tertentu sehingga hasil padi meningkat.
         2.         Padi rawa
Padi rawa atau padi pasang surut tumbuh liar atau dibudidayakan di daerah rawa-rawa. Selain di Kalimantan, padi tipe ini ditemukan di lembah Sungai Gangga. Padi rawa mampu membentuk batang yang panjang sehingga dapat mengikuti perubahan kedalaman air yang ekstrim musiman.
         3.         Padi Pera
Padi pera adalah padi dengan kadar amilosa pada pati lebih dari 20% pada berasnya. Butiran nasinya jika ditanak tidak saling melekat. Lawan dari padi pera adalah padi pulen. Sebagian besar orang Indonesia menyukai nasi jenis ini dan berbagai jenis beras yang dijual di pasar Indonesia tergolong padi pulen.
         4.         Padi Ketan
Ketan (sticky rice), baik yang putih maupun merah/hitam, sudah dikenal sejak dulu. Padi ketan memiliki kadar amilosa di bawah 1% pada pati berasnya.
         5.         Padi Wangi
Padi wangi atau harum (aromatic rice) dikembangkan orang di beberapa tempat di Asia, yang terkenal adalah ras Cianjur Pandanwangi (sekarang telah menjadi kultivar unggul) dan rajalele. Kedua kultivar ini adalah varietas javanica yang berumur panjang.

                  d.            Syarat Tubuh

Tanaman padi dapat hidup baik didaerah yang berhawa panas dan banyak mengandung uap air. Curah hujan yang baik rata-rata 200 mm per bulan atau lebih, dengan distribusi selama 4 bulan, curah hujan yang dikehendaki per tahun sekitar 1500 -2000 mm. Suhu yang baik untuk pertumbuhan tanaman padi 23 °C.
Tinggi tempat yang cocok untuk tanaman padi berkisar antara 0 -1500 m dpl. Tanah yang baik untuk pertumbuhan tanaman padi adalah tanah sawah yang kandungan fraksi pasir, debu dan lempung dalam perbandingan tertentu dengan diperlukan air dalam jurnlah yang cukup. Padi dapat tumbuh dengan baik pada tanah yang ketebalan lapisan atasnya antara 18 -22 cm dengan pH antara 4 -7.

                                                                                                                                                                     II.            KASUS

Kasus 5.
Pak Binu seorang petani mempunyai lahan dengan irigasi teknis. Ia selalu memanfaatkan lahannya dengan budidaya tanaman Padi secara terus menerus. Namun beberapa tahun terakhir ia mendapati hasil padinya menurun. Identifikasi lapangan menunjukkan kondisi lahan kurang baik, tanah terlihat keras dan biologi tanah kurang berkembang. Upaya apa yang harus di lakukan agar hasil tanam yang akan datang lebih baik?

                                                                                                                                             III.            PERMASALAHAN

Berdasarkan identifikasi lapangan yang ada di dalam kasus bahwa penurunan hasil produktivitas padi yang ada di lahan pak Binu terjadi kerena pengaruh dari kondisi lahan yang kurang baik. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa kondisi lahan tersebut terlihat kurang baik, tanah  mengeras dan biologi tanah kurang berkembang. Dari hasil identifikasi tersebut, kemungkinan masalah yang terjadi dalam kasus ini adalah pengaruh sistem budidaya dengan pola tanam monokultur yang tergantung pada penggunaan pupuk kimia secara terus-menerus, hal menyebabkan terjadinya pemadatan pada tanah. Selain itu pemupukan dengan pupuk sintetis kimiawi secara berlebihan dapat menyebabkan pelindian (washing) yang justru mengurangi kadar bahan orgaik tanah atau unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman.

                                                                                                                                       IV.            ANALISIS MASALAH

Dalam pembudidayaan tanaman Padi secara monokultur, penggunaan pupuk anorganik (kimia sintetis) sangat berlebih oleh petani, sehingga menyebabkan berbagai macam dampak diantaranya sifat fisik, kimia dan biologi tanah pada lahan pertanian.
Pengaruh hal tersebut terhadap sifat fisik tanah yakni solum tanahnya menjadi dangkal dan tanah menjadi keras. Tanah yang sudah mengeras, artinya kandungan bahan organiknya sudah minim atau bahkan tidak ada. Hal ini bisa disebabkan pemakaian pupuk anorganik atau pupuk yang berbahan amina yang terus menerus, Pupuk anorganik misalnya Urea, ZA, TSP. SP36. NPK dsb, sedangkan pupuk yang berbahan amina misalnya tetes limbah pabrik gula atau limbah pabrik bumbu masak. Pengaruhnya terhadap sifat  kimia adalah pH tanahnya menjadi masam karena  zona akar didominasi oleh ion H+ yang menyebabkan Al dan Fe terikat sehingga mengakibatkan racun dalam tanah dan unsur makro maupun mikro hilang. Kemudian pada sifat biologis adalah mikroorganisme  yang ada dalam tanah mati, karena pemadatan tanah serta tidak tersedianya O2. 
Selain itu pemadatan tanah juga berdampak pada penyerapan unsur hara dan air. Unsur hara yang diserap tidak efektif karena ikut terbawa air sehingga tanaman kekurangan unsur N yang mengakibatkan warna kekuningan pada tanaman padi.

                                                                                                                                                   V.            PENYELESAIAN

ü  Solusi permasalahan pada sistem budidaya tanaman Padi dengan pola tanam monokultur yakni dengan penggunaan pupuk kandang yang lebih banyak dari pupuk sintetis yang bertujuan untuk memperbaiki unsur tanah dan menambah unsur hara serta mikroorganisme dalam tanah. Perbandingan yang dianjurkan adalah 3:1 (3 = pupuk kandang, 1= pupuk sintetis). dengan aplikasi pupuk kandang diberikan dahulu. Setelah seminggu didekomposisikan baru kemudian ditambah pupuk anorganik.
ü  Cara mengolah lahan agar kesuburannya tetap terjaga ;
1.      Dianjurkan untuk tidak selalu mengolah tanah secara mekanis, misalnya dengan traktor, karena akan terjadi pemadatan di tanah.
2.      Tambahkan bahan organik pada tanah tersebut. Penambahan bahan organik ini bisa dengan menambahkan pupuk organik seperti kompos, pupuk kandang, jerami, dan pupuk hijau. Setelah pemberian pupuk ini, lahan di "Lep" ( di genangi air ) sampai becek, biarkan paling tidak 2 hari.
3.       Setelah proses ini jangan lagi menggunakan pupuk anorganik atau pupuk amina dulu dan lebih baik lahan ini diistirahatkan dulu, agar organisme baik berproses membentuk bahan organik yang nantinya akan menggemburkan tanah. Pertahankan tanah agar selalu berkelembaban tinggi.
4.       Melakukan pengolahan dan pemeliharaan lahan secara efektif yang di dalamnya meliputi pembajakan, penggaruan, pencangkulan, pembersihan dll.
ü  Padi di daerah tropis ditanam dengan berbagai system, salah satu sistem yang digunakan untuk menunjang produksi padi adalah sistem SRI (System of Rice Intensification). Sistem SRI berbeda dari sistem konvensional yang sering digunakan oleh petani. Bedanya dapat dilihat dari sistem penanaman, penggunaan pupuk maupun jarak tanamnya. Kelebihan metode SRI adalah tanaman hemat air, hemat biaya, hemat waktu, hemat bibit, ramah lingkungan, dan produksi meningkat. Hasil penelitian di Madagaskar pada beberapa jenis tanah tidak subur yang produksi normalnya 2 ton/ha, petani yang menggunakan SRI memperoleh hasil panen lebih dari 8 ton/ha, beberapa petani memperoleh 10 – 15 ton/ha, bahkan ada yang mencapai 20 ton/ha (Barkelaar 2002).

                                                                                                                                                    VI.            KESIMPULAN

Dari hasil analis masalah dapat disimpulkan bahwa masalah yang terjadi pada lahan sawah Pak Binu disebabkan oleh teknik budidaya padi dengan pola tanam monokultur yang bergantung pada penggunaan pupuk kimia secara terus menerus yang mengakibatkan tanah pada lahan menjadi keras dan sifat biologis menurun karena mikrobia yang ada didalam tanah tersebut mati dan berkurang akibat dari mengerasnya tanah tersebut. Solusi  dari permasalahan tersebut adalah petani harus lebih mempelajari teknik-teknik pengolahan lahan dalam budidaya tanaman Padi menggunakan teknik budidaya monokultur.



DAFTAR PUSTAKA

Geguritan. 2012. Budidaya tanaman padi. http://konsultasisawit.blogspot.com/2012/03/cara-budidaya-padi-sawah-dan-darat.html. diakses tanggal 19 Oktober 2012
AAK. 1981. Tanah dan Pertanian. Penerbit Kanisius: Yogyakarta. hal 35-37
Anonim. 2012. Sekilas tanaman padi. http://htn-alatpertanian.blogspot.com/. diakses tanggal 17 Oktober 2012
Ayu, andini, dan nasiratun. 2010. Dampak  penggunaan pupuk kimia berlebihan. http://www.scribd.com/doc/46939030/Dampak-Penggunaan-Berlebih-Pupuk-Kimia-Di-Tanah. diakses tanggal 17 oktober 2012
Siregar, H. 1981. Budidaya tanaman padi di Indonesia. Jakarta: P.T. Sastra Husada.
Hardjowigeno, S. Dan Rayes, L. 2005. Tanah Sawah (Karakteristik, Kondisi dan Permasalahan tanah sawah di Indonesia). Malang: Bayumedia Publising.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar